Dwip

Untuk Asistenku..

Lebaran datang.. musim mudik menjelang..
Asisten mudik.. Pastilah..
Sudah tradisi..
Hal-hal yang harus dilakukan sudah terbayang..

Cuti bersama di diperpanjang..
Semakin memperkuat alasan asistenku bisa liburan panjang.. :)
Jadilah 12 hari beliau-beliau itu berlibur ke kampungnya masing-masing..

Mengurus rumah tangga, itu pekerjaan mudah..
Yang dibutuhkan hanya tenaga dan kesempatan..
Nah, kesempatan ini yang sering tidak ada kalau sedang mengurus anak..
Apalagi masih ada bayi yang harus dipegang..
Bahkan untuk mandi pun rasanya susah sekali..
Untung yang besar sudah bisa mengurus dirinya sendiri..
Dan sesekali bisa disuruh untuk menjaga adiknya..

Memang membagi waktu antara berbenah rumah dengan mengurus anak harus adil..
Rumah harus bersih dan rapih, tapi Anak harus sudah beres terlebih dulu..
Di saat-saat ini seperti ini, terasa sekali jasa-jasa para asisten itu..

Para asistenku.. yang terkadang aku tidak puas terhadap mereka..
Karena hasil kerjanya yang terkadang dibawah “standar” yang aku tetapkan..
Meski tidak diucapkan,
terkadang hadir rasa jengkel di hati melihat barang yang tidak pada tempatnya

Ah asistenku.. maaf kalau selama ini aku kurang berterima kasih kepada kalian
Padahal kalian sudah begitu banyak membuat hidupku menjadi mudah
Sehingga aku tidak perlu direpotkan dengan masalah membuang sampah,
mengganti seprei, memasak, mencuci dan mengepel rumah..
terutama untuk pekerjaan yang paling berat untukku, menyetrika.. :(
Dan yang paling penting, kalian telah membantuku menjaga milikku yang paling berharga..
Anak-anakku..

Dengan jam kerja mulai dari jam 5 pagi sampai jam 6 sore
Meski dengan pembagian kerja masing-masing seperti yang sudah disepakati
Tapi pasti ada saatnya dimana kalian lelah..
Dan mungkin juga bosan..

Silahkan asistenku, jika kalian ingin berlibur di hari minggu..
Tapi boleh kan kalau hari sabtu kalian masih bekerja membantuku?
Karena terkadang ada saat dimana aku sangat memerlukan hari sabtu kalian..

Asistenku, semoga kompensasi yang aku berikan kepada kalian tidak kurang..
Meski ada pepatah, seberapa pun besarnya kompensasi, pasti akan selalu kurang..
karena rumput tetangga selalu lebih hijau..
Untung rumah tetangga kita tidak ada rumputnya ya asistenku..
Tapi minimal, semoga ada bagian yang bisa kalian tabung untuk keluarga kalian..

Terima kasih ya asistenku..

Cikini, Oct 22, 2007


E-Code (Kode babi pada makanan kemasan)

Saat ini banyak beredar email yang isinya tentang adanya kandungan babi pada semua makanan berkemas yang memiliki kode yang dimulai dengan huruf E.

Sebagai muslim, kita layaknya hati-hati terhadap semua informasi yang kita terima. Sebisa mungkin ricek ulang semua informasi tersebut.

Beberapa site yang mungkin bisa menjadi acuan dalam masalah halal haram dan masalah E Codes adalah:
http://www.halalmui.or.id
http://www.guidedways.com/halalfoodguide.php
http://www.muslimtents.com/aminahsworld/Ecodes.html


Pengaruh Qur’an Terhadap Organ Tubuh

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A’raaf : 204 )

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata : “Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat al-Fatihah, maka aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zam-zam dan membacakan padanya surat al-Fatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku mendapatkan kesembuhan total. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar. Kemudian aku beritahukan kepada banyak orang yang mengeluhkan suatu penyakit dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat”. Zaadul Ma’aad (IV/178) dan al-Jawabul Kaafi (hal. 21).

Ada menyeruak perhatian yang begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Qur’an, dan yang terlansir di dalam Al-Qur’an, dan pengajaran Rasulullah. Dan sampai beberapa waktu yang belum lama ini, belum diketahui bagaimana mengetahui dampak Al-Qur’an tersebut kepada manusia. Dan apakah dampak ini berupa dampak biologis ataukah dampak kejiwaan, atakah malah keduanya, biologis dan kejiwaan.

Maka, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami memulai sebuah penelitian tentang Al-Qur’an dalam pengulangan-pengulangan “Akbar” di kota Panama wilayah Florida. Dan tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan.

Penelitian ini menggunakan seperangkat peralatan elektronik dengan ditambah komputer untuk mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an.

Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:

1. Muslimin yang bisa berbahasa Arab.
2. Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab
3. Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur’an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.

Dan pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Qur’an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada syaraf secara sprontanitas. Dan penjelasan hasil penelitian ini aku presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Univ. Kedokteran Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus 1984.

Dan benar-benar terlihat pada penelitian permulaan bahwa dampak Al-Qur’an yang kentara pada penurunan tekanan syaraf mungkin bisa dikorelasikan kepada para pekerja: Pekerja pertama adalah suara beberapa ayat Al-Qur’an dalam Bahasa Arab. Hal ini bila pendengarnya adalah orang yang bisa memahami Bahasa Arab atau tidak memahaminya, dan juga kepada siapapun (random). Adapun pekerja kedua adalah makna sepenggal Ayat Al-Qur’an yang sudah dibacakan sebelumnya, sampai walaupun penggalan singkat makna ayat tersebut tanpa sebelumnya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dalam Bahasa Arabnya.

Adapun Tahapan kedua adalah penelitian kami pada pengulangan kata “Akbar” untuk membandingkan apakah terdapat dampak Al-Qur’an terhadap perubahan-perubahan fisiologis akibat bacaan Al-Qur’an, dan bukan karena hal-hal lain selain Al-Qur’an semisal suara atau lirik bacaan Al-Qur’an atau karena pengetahun responden bahwasannya yang diperdengarkan kepadanya adalah bagian dari kitab suci atau pun yang lainnya.

Dan tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa “Kata-kata dalam Al-Qur’an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami Al-Qur’an . Dan penelitian ini semakin menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.

Peralatan

Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston. Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal: (i) Perubahan gerak nafas secara langsung melalui komputer, dan (ii) Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi. Subsekuen:

1. Program komputer yang mengandung pengaturan pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.
2. Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor dan printer.
3. Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas 4 chanel: 2 canel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak syaraf otot; satu chanel untuk memonitor arus balik listrik yang ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu badan.

Berdasarkan elektrisitas listrik dalam otot-otot, maka ia semakin bertambah yang menyebabkan bertambahnya cengkeraman otot. Dan untuk memonitor perubahan-perubahan ini menggunakan kabel listrik yang dipasang di salah satu ujung jari tangan.

Adapun monitoring volume darah yang mengalir pada kulit sekaligus memonitor suhu badan, maka hal itu ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit. Untuk hal ini, menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar salah satu jari tangan. Dan tanda perubahan-perubahan volume darah yang mengalir pada kulit terlihat jelas pada layar monitoryang menunjukkan adanya penambahan cepat pada jantung. Dan bersamaan dengan pertambahan ketegangan, pori-pori mengecil, maka mengecil pulalah darah yag mengalir pada kulit, dan suhu badan, dan detak jantung.

Metode dan Keadaan yang digunakan: Percobaan dilakukan selama 210 kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun.

Dan setiap responden tersebut adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan percobaan ini sudah dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dan dibacakan kepada responden kalimat Al-Qur’an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan Al-Qur’an. Dan sungguh adanya kejutan/shock pada bacaan-bacaan ini: Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Qur’an) disejajarkan dengan bacaan Al-Qur’an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan responden tidak mendengar satu ayat Al-Qur’an selama 40 uji-coba. Dan selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Dan posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji-coba bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an.

Dan ujicoba menggunakan bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk mirip seperti Al-Qur’an, padahal mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan Al-Qur’an dan mana yang bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an. Dan tujuannya adalah utuk mengetahui apakah bacaan Al-Qur’an bisa berdampak fisiologis kepada orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada (terlihat), maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan berbahasa Arab yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada telinga responden.

Adapun percobaan yang belum diperdengarkan satu ayat Al-Qur’an kepada responden, maka tujuannya adalah untuk mengetahui dampak fisiologis sebagai akibat dari letak/posisi tubuh yang rileks (dengan duduk santai dan mata terpejam).

Dan sungguh telah kelihatan dengan sangat jelas sejak percobaan pertama bahwasannya posisi duduk dan diam serta tidak mendegarkan satu ayat pun, maka ia tidak mengalami perubahan ketegangan apapun. Oleh karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir pada penelitian perbandingan terhadap pengaruh bacaan Al-Qur’an dan bacaan bahasa Arab yang dibaca murottal seperti Al-Qur’an terhadap tubuh.

Dan metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Qur’an, kemudian bacaan bahasa Arab, kemudian Al-Qur’an dan seterusnya atau sebaliknya secara terus menerus.

Dan para responden tahu bahwa bacaan yang didengarnya adalah dua macam: Al-Qur’an dan bukan Al-Qur’an, akan tetapi mereka tidak mampu membedakan antara keduanya, mana yang Al-Qur’an dan mana yang bukan.

Adapun metode monitoring pada setiap percobaan penelitian ini, maka hanya mencukupkan dengan satu chanel yaitu chanel monitoring elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan perangkat Midax sebagaimana kami sebutkan di atas. Alat ini membantu menyampaikan listrik yang ada di dahi.

Dan petunjuk yang sudah dimonitor dan di catat selama percobaan ini mengadung energi listrik skala pertengahan pada otot dibandingkan dengan kadar fluktuasi listrik pada waktu selama percobaan. Dan sepanjang otot untuk mengetahui dan membandingkan persentase energi listrik pada akhir setiap percobaan jika dibandingkan keadaan pada awal percobaan. Dan semua monitoring sudah dideteksi dan dicatat di dalam komputer. Dan sebab kami mengutamakan metode ini untuk memonitor adalah karena perangkat ini bisa meng-output angka-angka secara rinci yang cocok untuk studi banding, evaluasi dan akuntabel..

Pada satu ayat percobaan, dan satu kelompok percobaan perbandingan lainnya mengandung makna adanya hasil yang positif untuk satu jenis cara yang paling kecil sampai sekecil-kecilnya energi listrik bagi otot. Sebab hal ini merupakan indikator bagusnya kadar fluktuasi ketegangan syaraf, dibandingkan dengan berbagai jenis cara yang digunakan responden tersebut ketika duduk. Hasil Penelitian

Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur’an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur’an.

Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang terulang sama, seperti hasil pengujian terhadap mendengar bacaan Al-Qur’an. Oleh karena itu, dilakukan ujicoba dengan diacak dalam memperdengarkannya (antara Al-Qur’an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh data atau kesimpulan yang valid.

Pembahasan Hasil Penelitian dan Kesimpulan Sungguh sudah terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur’an pada penelitian terdahulu bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf. dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.

Dan semua perubahan ini menunjukan bahwasanya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya. Jadi, ditemukan sejumlah kemungkinan yang tak berujung ( tidak diketahui sebab dan musababnya) terhadap perubahan fisiologis yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur`an yang didengarkannya.

Oleh karena itu sudah diketahui oleh umum bahwasanya ketegangan-ketegangan saraf akan berpengaruh kepada dis-fungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespon gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena itu pada keadaan ini pengaruh Al-Qur`an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina tubuh ini akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya. Dan hal ini sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker otak.

Juga,

hasil uji coba penelitian ini menunjukan bahwa kalimat-kalimat Al-Qur`an itu sendiri memeliki pengaruh fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila disertai dengan mengetahui maknanya.

Sumber : harun yahya

“Katakanlah, al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Fushshilat : 44).

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Israa’ : 82).

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Yunus : 57).

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A’raaf : 204 )

KEUTAMAAN SURAT AL MU’AWWIZAATAIN ( Surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas )

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

Adakah kau lihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini dan

selainnya tidak dapat dilihat sepertinya?, dialah: Qul a’udzu

birabbil falaq’ dan ‘Qul a’udzu birabbin-naas.”

(Diriwayatkan oleh Muslim)

Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. apabila akan berangkat

tidur tiap-tiap malam beliau mengumpulkan kedua telapak

tangannya kemudian meniupkannya seraya membaca surat Al Ikhlash,

Al Falaq dan An-Naas. Kemudian beliau mengusapkannya ke seluruh

tubuhnya (sebatas yang bisa) dimulai dari kepala lalu muka

kemudian bagian depan dari badan. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.

(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

dikutip dari situs http:/perodua-baru.tripod.com/id14.html


Jamiatul Quran

==================================================================== Mungkin cerita dibawah ini bisa kita jadikan referensi bagaimana cara mengajarkan Al-Qur’an yang sangat bagus untuk mendidik anak-anak kita agar lebih mudah menanamkan Al-Qur’an dalam kehidupan kesehariannya. Andaikan saya bisa ……………….. ==================================================================== Assalamualaikum

Saya tinggal di Iran dan punya usia anak empat tahun. Sejak tiga bulan lalu, saya masukkan dia ke sekolah hafiz Quran untuk anak2. Setelah masuk., wah ternyata unik banget metodenya. (Siapa tau bisa dijadikan masukan buat akhwat2 yg berkecimpung di bidang ini.)

Anak-anak balita yang masuk ke sekolah ini (namanya Jamiatul Quran), tidak disuruh langsung ngapalin juz’amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan gambar misalnya, gambar anak lagi cium tangan ibunya, (di rumah, anak disuruh mewarnai gambar itu), lalu guru cerita ttg gambar itu (jadi anak harus baik.dll). Kemudian, si guru ngajarin ayat “wabil waalidaini ihsaana/Al Isra:23″ dengan menggunakan isyarat (kayak isyarat tuna rungu), misalnya, “walidaini”, isyaratnya bikin kumis dan bikin keru dung di wajah (menggambarkan ibu dan ayah). Jadi, anak2 mengucapkan ayat itu sambil memperagakan makna ayat tersebut. Begitu seterusnya (satu pertemuan hanya satu atau dua ayat yg diajarkan). Hal ini dilakukan selama 4 sampai 5 bulan.

Setelah itu, mereka belajar membaca, dan baru kemudian mulai menghapal juz’amma. Suasana kelas juga semarak banget. Sejak anak masuk ke ruang kelas, sampai pulang, para guru mengobral pujian-pujian (sayang, cantik, manis, pintar.dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali seminggu) selalu ada saja hadiah yang dibagikan untuk anak-anak, mulai dari gambar tempel, pensil warna, mobil2an, dll.

Habis baca doa, anak-anak diajak senam, baru mulai menghapal ayat. Itupun, sebelumnya guru mengajak ngobrol dan anak2 saling berebut memberikan pendapatnya. (Sayang anak saya krn masalah bahasa, cenderung diam, tapi dia menikmati kelasnya). Setelah berhasil menghapal satu ayat, anak-anak diajak melakukan berbagai permainan.

Oya, para ibu juga duduk di kelas, bareng2 anak2nya. Kelas itu durasinya 90 menit . Hasilnya? Wah, bagus banget! Ketika melihat saya membuka keran air akan terlalu besar, anak saya akan nyeletuk, “Mama, itu israf (mubazir)!” (Soalnya, gurunya menerangkan makna suratAl A’raf :31 “kuluu washrabuu walaatushrifuu/makanlah dan minumlah, dan jangan israf/berlebih2an). Waktu dia lihat TV ada polisi ngejar2 penjahat, dia nyeletuk “Innal hasanaat tushrifna sayyiaat/ Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan” (Hud:114). Teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa tiap kali dia ngobrol dgn temannya ttg orang lain, anaknya akan nyeletuk “Mama, ghibah ya?” (soalnya, dia sudah belajar ayat “laa yaghtab ba’dhukum ba’dhaa”/Mujadalah:12).

Anak saya (dan anak2 lain, sesuai penuturan ibu2 mereka), ketika sendirian, suka sekali mengulang2 ayat2 itu tanpa perlu disuruh. Ayat2 itu seolah-olah menjadi bagian dari diri mereka. Mereka sama sekali tidak disuruh pakai kerudung. Tapi, setelah diajarkan ayat ttg jilbab (An-Nur:31), mereka langsung minta sama ibunya untuk dipakaikan jilbab.

Anak saya, ketika ingkar janji (misalnya, janji nggak main lama2, trus ternyata mainnya lama), saya ingatkan ayat “limaa taquuluu maa laa taf’alun” (As-Shaf:2).dia langsung bilang “Nanti nggak gitu lagi Ma.!” Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya tepati, ayat itu pula yang keluar dari mulutnya!

Setelah tanya2 ke pihak sekolah, baru saya tahu bahwa metode seperti ini, tujuannya adalah untuk menimbulkan kecintaan anak2 kepada Al Quran. Anak2balita itu di masa depan akan mmpunyai kenangan indah ttg Al Quran. Saya pikir2 benar juga. Saya ingat, dulu waktu kecil pergi ke TPA (Taman Pendidkan Al Quran) di Indonesia, rasanya maless..banget (Kalo nggak dipaksa ortu, nggak jalan deh).

Bagi saya, TPA identik dengan beban berat, PR yaang banyak, hapalan bejibun, guru galak, dsb. Pernah saya dengar, di sekolah Kristen anak2 diberi hadiah dan dikatakan kepada mereka bahwa itu dari Yesus. Nah, kenapa kita kaum muslim yang meyakini bahwa agama kitalah yang paling benar, tidak meniru cara ini agar anak2 merasa cinta kepada Allah dan Quran?

Bagaimanapun, dunia anak2 adalah dunia materi. Mereka baru bisa mencerap hal2 yang nyata, seperti hadiah (dan belum paham, pahala itu apa). Paraorangtua teman sekelas anak saya juga pada cerita bahwa anak2nya malah nangis kalau nggak diajak ke sekolah. Malah, buat anak saya, ancaman tidak diantar ke sekolah adalah ancaman paling ampuh, kalau dia nakal (dia akan langsung nangis, hehehe…mamanya nakal ya?).

Metode pengajaran ayat Quran dengan menggunakan isyarat ini diciptakan oleh seorang ulama bernama Sayyid Thabathabai. Anak beliau yang pertama pada usia 5 tahun di bawah bimbingan beliau sendiri, sudah hapal seluruh juz Al Quran, berikut maknanya, hapal topik2nya (misalnya, ditanyakan, coba sebutkan ayat2 mana saja yg berbicara ttg akhlak kepada orangtua, dia akan menyebut, ayat ini..ini..ini..), dan mampu bercakap-cakap dengan bahasa Al Quran (misalnya ditanya; makanan favoritmu apa, dia akan menjawab “Kuluu mimma fil ardhi halaalan thayyibaa”(Al Baqarah:168). Anak kedua juga memiliki kemampuan sama, tapi sedikit lebih lambat, mungkin usia 6 atau 7 tahun.

Keberhasilan anak2 Sayyid Thabathabi itu benar-benar fenomental (bahkan anak pertamanya diberi gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ulumul Quran oleh sebuah universitas di Inggris), sehingga sejak itu, gerakan menghapal Quran untuk anak-anak kecil benar2 digalakkan di Iran.

Setiap anak penghapal  Quran dihadiahi pergi haji bersama orangtuanya oleh negara dan setiap  tahunnya ratusan anak kecil di bawah usia 10 tahun berhasil menghapal Al  Quran (jumlah ini lebih banyak kalau dihitung juga dengan anak lulusan  dari sekolah2 lain).

Salah satu tujuan Iran dalam hal ini (kata salah  seorang guru) adalah untuk menepis isu-isu dari musuh-musuh Islam yang  ingin memecah-belah umat muslim, yang menyatakan bahwa Quran-nya orang  Iran itu beda/ lain daripada yg lain). Saya pernah diskusi dgn teman saya dosen ITB, dia mengatakan bahwa metode seperti itu merangsang kecerdasan anak karena secara bersamaan anak akan melihat gambar, mendengar suara, melakukan gerakan-gerakan yang selaras dengan ucapan verbal, dll. Sebaliknya, menghapal secara membabi-buta, malah akan membuntukan otak anak. Selain itu, menurut guru di Jamiatul Quran ini, pengalaman menunjukkan bahwa anak-anak yang menghapal Quran dengan melalui proses isyarat ini (jadi mulai sejak balita sudah masuk ke sekolah itu) lebih berhasil dibandingkan anak-anak yang masuk ke sana ketika usia SD.

Selain itu, menghapal Al Quran lengkap dengan pemahaman atas artinya jauh lebih bagus dan awet (nggak cepat lupa) bila dibandingkan dengan hapal cangkem (mulut). Nah.segitu dulu pengalaman saya. Mudah2an ada manfaatnya. Wassalam.


ARTIKEL TANPA JUDUL

Diambil dari milis tetangga..

Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke Jakarta. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan. “Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum.Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya. “Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas. dia berlalu.Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.“Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.

“Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,”kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, “Tak mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak atau Ibu.” Molek budi
bahasanya.

Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun
orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil.

Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas senyumannya.
“Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang,” katanya sopan sekali sambil tersenyum.
Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya.

“Ambil ini Dik! Abang sedekah… Tak usah Abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak.

Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu.

“Kenapa Bang, mau beli kue kah?” tanyanya.
“Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.
“Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak
berupaya, saya masih kuat Bang!” katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

“Abang mau beli semua kah?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. “Rp 25.000,- saja Bang….” Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya?.


Ummu Sulaim Binti Milhan

Sang Da’i wanita
Ditulis kembali dari buku: “Sahabat wanita utama Rasulullah” karangan Mahmud Mahdi Al-Intanbuli dan Musthafa Abu Nashr Asy-Syilby

Namanya adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Milham bin Khalid bin Zaid bin Haram, seorang wanita Anshar dari suku Khazraj.
Dia seorang wanita yang cantik, tegar pendirian, pendapatnya akurat, matang pemikirannya dan jiwanya dihiasi kecerdasan dan akhlak yang mulia.
Karena sifatnya inilah, sepupunya, Malik bin Nadhar segera menikahinya, dan lahirnya seorang anak yang diberi nama Anas.

Ketika cahaya kenabian dan seruan kepada agama Tauhid dikumandangkan, ia segera masuk Islam.
Jadilah Ummu Sulaim termasuk di antara wanita Anshar angkatan pertama yang memeluk islam.
Cobaan pertama yang dihadapinya setelah memeluk islam adalah kemarahan suaminya, Malik. Ketika mengetahui keislaman istrinya,
Malik dengan kemarahan yang memuncak bertanya pada istrinya: “Apakah engkau sudah murtad?”
Dengan yakin dan hati mantap dia berkata: “Aku tidak murtad, tapi aku justru beriman”.
Ummu Sulaim juga membimbing anaknya mengucap 2 kalimat syahadat. Mendengar itu Malik marah dan berkata: “Jangan kau rusak anakku”.
Ummu Sulaim menjawab:”Aku tidak merusaknya, bahkan aku justru mendidiknya”

Menghadapi keteguhan hati istrinya, Malik mengancam akan meninggalkannya dan tidak akan kembali,
kecuali Ummu Sulaim kembali ke agamanya yang dahulu. Tapi istrinya berulang-ulang mengucapkan kata Laa illa ha ilallah, Muhammad Rasulullah.
Malik keluar rumahnya dalam keadaan marah. Ditengah jalan ia bertemu musuhnya, dan kemudian ia dibunuh.
Ketika kabar kematian suaminya sampai, Ummu Sulaim menerimanya dengan ikhlas. Kemudian ia pergi menemui Rasulullah dan menawarkan Anas untuk menjadi pelayannya. Dengan senang hati beliau memenuhi keinginan Ummu Sulaim.

Peristiwa yang dialami Anas bin Malik dan ibunya, membuat orang terkagum-kagum, sehingga mereka sering memperbincangkannya.
Kabar itu terdengar ke telinga Abu Thalhah, tumbuhlah rasa suka di hatinya, dan ia mengajukan lamaran dengan mahar yang mahal.
Akan tetapi betapa terkejutnya ia ketika Ummu Sulaim menolak.
Ummu Sulaim berkata: “Sesungguhnya tidak patut bagiku untuk menikah dengan orang musyrik. Tidakkah kamu tahu Abu Thalhah, bahwa Tuhan-tuhan kalian itu akan hangus bila kalian bakar?”

Dada Abu Thalhah terasa sesak akibat penolakan itu. Namun karena rasa cinta yang mendalam, ia datang lagi keesokan harinya dengan mahar yang lebih banyak. Dia berharap Ummu Sulaim akan melunak dan sudi menerima pinangannya.
Akan tetapi, Ummu Sulaim adalah wanita yang berpendirian teguh. Islam di hatinya jauh lebih berharga daripada segala kenikmatan dunia.
Dia berkata: “Wahai Abu Thalhah, orang sepertimu sesungguhnya tidak patut ditolak lamarannya. Tapi sayang engkau kafir, sedang aku muslimah. Aku tidak halal menikah denganmu. Apabila engkau masuk islam, itulah mahar untukku. Aku tidak minta yang lain darimu.”
Kalimat ini menyentuh perasaan Abu Thalhah yang terdalam, dan hatinya pun makin mantap pada Ummu Sulaim. Ia yakin bahwa ia tidak akan menemukan seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya, yang lebih baik darinya.
Akhirnya Abu Thalhah berangkat menemui Rasulullah, dan menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Ummu Sulaim.
Nabi pun akhirnya mengislamkannya dan menikahkannya dengan Ummu Sulaim.
Atas kejadian ini, Tsabit, perawi hadits dan Anas berkata: “Aku belum pernah mendengar sama sekali wanita yang paling baik maharnya, selain Ummu Sulaim, karena maharnya adalah keislaman”

Abu Thalhah masuk dalam madrasah kenabian melalui perantaraan istrinya yang mulia. Ia menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan mulia.
Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling kaya di Madinah. Kekayaan yang paling disukai adalah Bairuha’, yaitu kebun yang berlokasi di depan mesjid Nabawi, dan Rasulullah sering masuk dan minum airnya yang segar.
Ketika turun ayat “Kalian sekali-kali tidak sampai pada kebaikan yang sempurna sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai…”,
maka dia datang ke Rasulullah dan menshadaqohkan kebunnya kepada Rasulullah.

Allah memuliakan suami istri ini dengan kelahiran seorang anak, yang diberi nama Abu Umair. Kemudian Allah berkehendak menguji keduanya dengan sakitnya Abu Umair. Kondisi fisik anak kecil itu makin hari makin lemah, sehingga membuat mereka prihatin.
Apabila Abu Thalhah pulang dari pasar, yang pertama-tama ditanyakannya adalah keadaan Abu Umair.
Suatu hari, ketika Abu Thalhah pergi ke mesjid, anaknya meninggal. Sang ibu menghadapi kematian anaknya dengan sabar dan ridha.
Dibaringkan tubuh anaknya seraya mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un.
Selanjutnya dia berkata pada keluarganya: “janganlah kalian memberitahukan hal ini pada Abu Thalhah sampai aku sendiri yang memberitahukannya”

Ketika Abu Thalhah pulang ke rumah, Ummu Sulaim menyambutnya dengan hangat. “Bagaimana keadaan anakku?’ tanya Abu Thalhah.
“Keadaannya sekarang sudah lebih tenang daripada hari-hari sebelumnya.”
Abu Thalhah merasa gembira, dan mengira anaknya sudah sembuh. Dia pun tidak mendekatinya agar ketenangan anaknya tidak terganggu.
Tak lama kemudian, istrinya menghidangkan makanan malam yang lezat, setelah itu ia makan dan minum.
Setelah itu Ummu Sulaim bersolek secantik-cantiknya melebihi waktu-waktu sebelumnya, sehingga Abu Thalhah mengajaknya tidur bersama.

Setelah Ummu Sulaim melihat suaminya kenyang, dan selesai melakukan hubungan intim, dan tidak menanyakan anaknya, Ummu Sulaim memuji Allah.
Dia tidak ingin suaminya bersedih. Dia ingin suaminya bisa tidur nyenyak malam itu.
Baru ketika ke akhir malam dia berkata pada suaminya:”Wahai suamiku, bagaimana pendapatmu bila ada suatu kaum yang meminjami sesuatu pada keluarganya, kemudian ia memintanya kembali? Bolehkan keluarga itu menahannya?”.
“Tentu saja tidak boleh”.
Ummu Sulaim bertanya lagi:”Bagaimana jika mereka sangat keberatan untuk mengembalikan karena sudah keenakan dengan pinjaman tersebut?”
Abu Thalhah menjawab dengan tegas: “Tidak, menahan separonya saja tidak boleh..”
Lalu Ummu Sulaim berkata:”Suamiku, sesungguhnya Allah telah meminta kembali anakmu, maka relakanlah ia”

Abu Thalhah tak mampu menahan dirinya. Dia marah pada istrinya. Ummu Sulaim tak henti-hentinya mengingatkan suaminya untuk mengucap kalimat istirja (inna lillah…..) dan memuji Allah, sampai suaminya menjadi tenang.
Pagi harinya, Abu Thalhah pergi ke Rasulullah dan menceritakan hal itu kepada beliau. Rasul berkata:”Semoga ALlah memberkati kalian berdua atas apa yang kalian lakukan semalam”.

Ternyata dari hubungan suami istri malam itu, lahirlah seorang anak. Anas disuruh membawanya ke Rasulullah dan berkata:”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim tadi malam melahirkan anak ini”. Rasulullah pun mengunyah buah kurma hingga lembut dan mentahnikkannya pada bayi itu (mengoleskan pada langit-langit mulut). Anas berkata:”berilah dia nama wahai Rasulullah”.
“Namanya Abdullah”.
‘Ababah, seorang perawi hadits berkata:”Sesungguhnya aku melihat laki-laki itu (Abdullah bin Thalhah) mempunyai 7 anak dan semuanya hafal Al Qur’an.

Peristiwa mengesankan lainnya adalah ketika seorang datang kepada nabi dan mengeluhkan keadaannya, sengsara dan kelaparan.
Rasulullah menanyakan kepada istrinya apakah ia mempunyai makanan, tapi tak ada yang bisa dimakan kecuali air. Demikian pula istri-istrinya yang lain,
semua menjawab sama:”Demi zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, kami tidak memiliki apa-apa kecuali air”.

Setelah itu Rasulullah bersabda pada para sahabat:
“Siapa yang bersedia menerima laki-laki ini sebagai tamu, mudah2an Allah melimpahkan rahmatNya kepadanya”.
Abu Thalhah bersedia, dan membawa laki-laki itu ke rumahnya.
Sesampainya dirumah, dia bertanya pada istrinya:”Wahai istriku, apakah kamu punya sesuatu?”
Istrinya menjawab:”Tidak, kecuali makanan untuk anak-anakku saja”
Abu Thalhah berkata:”Ajak mereka bermain-main dan tidurkan mereka. Bila tamu kita masuk, perlihatkan padanya bahwa kita akan makan bersama.
Ketika di sudah mencicipi makanan, berdirilah engkau ke arah lampu seolah-oleh kau sedang memperbaikinya, kemudian matikan lampu itu.”
Ummu Sulaim menuruti suaminya.
Mereka pun kemudian duduk, dan sang tamu tersebut makan, sementara mereka kelaparan malam itu.
Keesokan harinya Abu Thalhah menceritakan semuanya pada Rasulullah, dan Rasulullah bersabda:
“Sungguh Allah kagum dengan apa yang kalian berdua lakukan tadi malam terhadap tamu kalian”.
dalam hadits lain disebutkan bahwa setelah itu Allah menurunkan ayat:
“…Mereka lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, sekalipun mereka sendiri sangat membutuhkannya” (QS Al Hasyr (59):9)

Peran Ummu Sulaim dalam menyebarkan Islam tidak hanya dengan lisan, tapi juga ikut terjun ke medan jihad. Dia ikut berperang dalam perang Hunain.
Tugasnya memompa semangat para mujahid dan mengobati orang-orang yang terluka. Selain itu dia juga mempertahankan diri dari serangan musuh.
Rasulullah telah memberikan kabar gembira baginya sebagaimana sabda beliau:
“Aku (pernah bermimpi) masuk surga, dan mendengar suara langkah orang berjalan di sana”. Aku lalu bertanya (kepada para malaikat): ‘Siapa itu?’
Mereka menjawab:’Itu Rumaisha’ binti Milhan, ibu Anas bin Malik’


Mati Syahid

21 Sep 2007, 9 Ramadhan 1428 H

Kemarin habis mendengarkan ceramah Ust. Ali Hasan tentang mati syahid.
Kebetulan habis baca buku sahabat-sahabat wanita Rasulullah. Semuanya disebutkan mujahidah. Jadi pengen..

Mati Syahid..
di alam kubur tidak di azab..
jaminan masuk surga, selama tidak punya hutang dengan manusia lain..
Hmmm.. nikmatnya.. Apa yang lebih nikmat dari itu..?

Tapi hari gini??? Mana mungkin??
Masa harus dateng ke Palestina?
Mau ngapain di sana? bunuh diri? Wong ga punya kemampuan perang..

Untung ada klarifikasi dari Ust Ali Hasan.
Mati syahid tidak hanya itu. Orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan,
orang yang terbakar, mati karena mempertahankan hartanya, melahirkan, semua mati syahid,
selama mereka tidak sedang bermaksiat pada Allah.

Wah.. masih ada kesempatan..
Ya Allah.. matikan aku dan seluruh keluargaku dalam keadaan Khusnul Khatimah..
Atau matikan kami semua dalam keadaan berpuasa..
Jadikan kami semua sebagai mujahid dan mujahidah, wahai dzat yang jiwaku ada ditanganNya.


Project Management

Katanya, 80% project di Indonesia, GAGAL..
Katanya lagi, survey di Asia Timur berkata 30-40% projectnya tidak tepat waktu.
Bahkan di negara barat pun, 20% dari total projectnya mundur dari tenggat..
Menarik bukan..?

Lalu apa bedanya negara maju dengan Indonesia..?
Di negara maju, ternyata mundur dari tenggat waktu adalah hal yang biasa dalam sebuah project.
Bahkan dalam banyak hal, dimaklumi, karena yang dikejar adalah kualitas project delivery.
How to achieve acceptable quality in your project.
Itu adalah tujuan utamanya.

Di Indonesia??
Bagaimana caranya dalam project itu bisa dimasukkan scope yang sebesar-besarnya, dengan quality setinggi-tingginya, dan cost yang semurah-murahnya..
Dan satu lagi, semua LIVE datenya sudah DITENTUKAN, untuk kepentingan tertentu..
Selesai tidak selesai, harus dikumpulkan.. gitu dulu kata Pak Guru.
Sama dengan project di Indonesia, selesai tak selesai, pokoknya harus LIVE..
Quality??
Aaahh… yang penting ada dulu laaah..

Planning.. itu fase dalam project management yang paling sering dilupakan.
Atau kalaupun ingat, dikerjakan seadanya.
Padahal fase planning inilah yang menentukan keberhasilan sebuah project.
But how can you do planning in this big project when your due date is only 3 months from today?
Tidak ada waktu buat planning.. semua harus langsung eksekusi..
Ada masalah?? tambal sulam saja… yang penting jalan dulu..
Kepentingan bos harus diutamakan..
Sayang..

Sekarang sudah banyak sekali PM-PM dari Indonesia, ada sertifikasinya pula, Internasional lho.
Tapi pada kemana mereka??

Bukan kemana-mana, tapi mereka kesulitan apply semua seni yang ada dalam project management, tak lain dan tak bukan adalah karena culture di Indonesia yang kurang mendukung.
Banyak sekali kepentingan politis yang diusung.

Buat pembaca yang ingin belajar Project Management bisa mengambil di Prosys Solution sekalian sertifikasinya. Atau bisa juga di PMP.


Lomba Ramadhan

2 Ramadhan 1428H

Hari ini, setelah mendengarkan ceramah Ramadhan untuk muslimah di mushola putri, saya turun ke mushola umum di Basement. Tujuannya mau liat lomba..
Selama sebulan ini, tiap jum’at ada lomba wawasan keislaman. Pertanyaannya sebenarnya relatif mudah, karena masih ke pengetahun dasar.. tapi karena faktor grogi, banyak temen2 yang antara otak dan mulutnya tidak sinkron, maksutnya A di jawap B. Lucu juga..
Jadi menyadarkan diri ini, bahwa hal-hal yang mudah, kalau tidak pernah dilatih, jadinya akan sulit juga..

Ternyata, begitu banyak kekurangan dalam diri ini yang selama ini tidak disadari..